Gesekan Ojol dan Mahasiswa di Ruang Publik, Mengapa Konflik Mudah Membesar?

Gesekan Ojol dan Mahasiswa di Ruang Publik, Mengapa Konflik Mudah Membesar?
JAKARTA — Ruang publik perkotaan kembali menjadi perhatian ketika aktivitas demonstrasi mahasiswa bersinggungan dengan aktivitas pengemudi ojek daring. Dua kelompok masyarakat dengan kepentingan berbeda dapat bertemu di ruang yang sama, sementara kondisi di lapangan berpotensi memicu gesekan apabila tidak ada komunikasi dan pengaturan yang memadai.
Fenomena tersebut tidak hanya dapat dilihat sebagai persoalan antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih luas mengenai penggunaan ruang publik, tekanan ekonomi pekerja sektor gig, penyampaian aspirasi, serta bagaimana informasi menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial.
Sebuah ulasan di Info Jakarta menyoroti fenomena tersebut dari perspektif sosial perkotaan. Artikel tersebut melihat gesekan antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa sebagai gambaran bagaimana kepentingan masyarakat dapat beririsan di ruang publik yang sama.
Ketika Demonstrasi Bertemu Aktivitas Pengemudi Ojol
Bagi mahasiswa, penggunaan jalan dalam aksi demonstrasi merupakan bagian dari strategi untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan mendapatkan perhatian publik.
Namun bagi pengemudi ojek daring, jalan merupakan bagian penting dari aktivitas mencari penghasilan. Setiap hambatan perjalanan dapat memengaruhi waktu pengantaran, jumlah pesanan yang diselesaikan, hingga pendapatan harian.
Kondisi tersebut menciptakan dua kepentingan yang sama-sama memiliki alasan kuat.
Mahasiswa membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi, sementara pengemudi ojek daring membutuhkan akses terhadap jalan untuk menjalankan pekerjaan.
Persoalan kemudian muncul ketika kedua kepentingan tersebut bertemu tanpa adanya pengaturan lalu lintas, jalur alternatif, maupun komunikasi yang memadai.
Pekerja Gig Berada dalam Tekanan Waktu
Salah satu karakteristik pekerjaan ojek daring adalah ketergantungan terhadap waktu dan sistem digital.
Pengemudi menerima pesanan melalui platform, menentukan rute, mengambil penumpang atau barang, kemudian menyelesaikan perjalanan dalam waktu tertentu. Karena itu, gangguan lalu lintas dapat memberikan dampak langsung terhadap aktivitas mereka.
Tekanan tersebut menjadi semakin besar ketika pengemudi harus mengejar target pendapatan harian.
Dalam kondisi seperti ini, sebuah kemacetan atau penutupan jalan tidak selalu dipandang sebagai persoalan lalu lintas biasa. Bagi sebagian pengemudi, hambatan tersebut dapat berarti berkurangnya kesempatan mendapatkan order.
Media Sosial Mempercepat Reaksi Massa
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah penyebaran informasi melalui media sosial dan grup percakapan.
Video singkat mengenai sebuah insiden dapat menyebar dalam waktu sangat cepat. Masalahnya, potongan video sering kali tidak memberikan gambaran lengkap mengenai apa yang terjadi sebelum maupun setelah sebuah kejadian.
Artikel Info Jakarta juga menyoroti bagaimana grup komunikasi yang pada awalnya digunakan untuk berbagi informasi pekerjaan dapat berubah menjadi sarana mobilisasi ketika muncul sebuah insiden yang dianggap merugikan anggota komunitas.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa teknologi memiliki dua sisi. Di satu sisi, teknologi mempercepat penyampaian informasi dan koordinasi. Di sisi lain, informasi yang belum diverifikasi juga dapat mempercepat munculnya emosi dan reaksi kolektif.
Konflik Horizontal Perlu Dicegah Sejak Awal
Persoalan antara mahasiswa dan pengemudi ojek daring seharusnya tidak berkembang menjadi konflik horizontal yang lebih luas.
Kedua kelompok tersebut memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda. Mahasiswa menyampaikan aspirasi mengenai persoalan publik, sedangkan pengemudi ojek daring berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.
Perbedaan kepentingan tersebut tidak semestinya membuat kedua kelompok saling berhadapan.
Karena itu, pengamanan dan pengaturan aksi menjadi penting. Koridor tertentu dapat tetap diberikan kepada masyarakat yang harus bekerja atau melakukan perjalanan, sementara massa aksi tetap dapat menjalankan kegiatan demonstrasi secara tertib.
Pentingnya Mediasi antara Pengemudi dan Penyelenggara Aksi
Pencegahan konflik tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan.
Penyelenggara demonstrasi, organisasi mahasiswa, komunitas pengemudi, platform transportasi daring, serta pemerintah daerah dapat memiliki peran dalam membangun komunikasi sebelum dan selama aksi berlangsung.
Informasi mengenai titik demonstrasi, ruas jalan yang ditutup, serta jalur alternatif dapat disebarkan lebih awal kepada pengemudi.
Dengan demikian, pengemudi memiliki kesempatan untuk mengubah rute dan menghindari kawasan yang sedang digunakan untuk aksi.
Di sisi lain, penyelenggara demonstrasi juga dapat mempertimbangkan dampak penutupan jalan terhadap masyarakat yang tidak terlibat dalam aksi.
Literasi Digital Menjadi Semakin Penting
Selain pengaturan di lapangan, masyarakat juga perlu meningkatkan kemampuan dalam memverifikasi informasi.
Ketika sebuah video mengenai bentrokan atau perselisihan menjadi viral, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan siapa yang benar atau salah hanya berdasarkan beberapa detik rekaman.
Konteks sebelum kejadian, lokasi, waktu, dan sumber video perlu diperiksa terlebih dahulu.
Langkah sederhana tersebut dapat mencegah munculnya provokasi berbasis informasi yang tidak lengkap.
Bagi komunitas pengemudi maupun mahasiswa, grup komunikasi juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang membantu meredakan situasi, bukan justru memperbesar konflik.
Ruang Publik Harus Bisa Digunakan Bersama
Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada fungsi dasar ruang publik.
Jalan bukan hanya tempat kendaraan bergerak. Jalan juga menjadi ruang interaksi masyarakat, tempat aktivitas ekonomi berlangsung, serta terkadang menjadi lokasi masyarakat menyampaikan aspirasi.
Karena itu, pengelolaan ruang publik membutuhkan keseimbangan.
Demonstrasi merupakan bagian dari kehidupan demokratis, sementara mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi juga perlu mendapatkan perlindungan.
Kuncinya adalah komunikasi, pengaturan lalu lintas, serta kemampuan semua pihak untuk memahami kepentingan kelompok lain.
Jika komunikasi dapat dibangun sejak awal, potensi gesekan antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa dapat diminimalkan.
Ruang publik pada akhirnya bukan milik satu kelompok. Jalanan merupakan ruang bersama yang digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat dengan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, penyelesaian konflik sebaiknya tidak berhenti pada mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana menciptakan mekanisme agar kepentingan yang berbeda dapat berjalan berdampingan tanpa berubah menjadi benturan.
































